Sumber: Dokumentasi Sesi Tanya Jawab Gus Baha dan Prof. Quraish Shihab di UII.
Artikel ini merangkum poin-poin penting dari sesi tanya jawab mendalam bersama dua tokoh besar, Gus Baha dan Prof. Quraish Shihab, yang diselenggarakan di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta pada 8 Desember 2025. Diskusi ini menyoroti bagaimana nilai Al-Qur'an tetap relevan dalam menjawab tantangan moral dan pola asuh di era modern.
1. Menghadapi Tantangan Moral Sekuler di Era Modern
Seorang mahasiswa menyampaikan keresahannya mengenai gaya hidup mahasiswa saat ini yang secara ritual bertauhid, namun secara moral cenderung sekuler dan pragmatis. Menanggapi hal ini, Gus Baha memberikan sudut pandang yang menenangkan:
- Keresahan sebagai Tanda Iman: Gus Baha mengapresiasi penanya karena memiliki kepedulian terhadap moralitas adalah ciri orang baik.
- Realitas Tidak Pernah Ideal: Beliau mengingatkan bahwa kondisi ideal 100% tidak pernah ada, bahkan sejak zaman Nabi. Beliau mencontohkan kisah sahabat yang sangat mencintai Nabi namun masih memiliki kebiasaan buruk (mabuk).
- Jangan Mudah Melaknat: Nabi melarang sahabat lain melaknat orang tersebut karena ia masih memiliki cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Kebaikan harus tetap diupayakan tanpa harus menghakimi secara berlebihan.
"Nabi tidak mengeluarkan seseorang dari status 'mencintai kebenaran' hanya karena ia melakukan kesalahan. Kita harus selalu berharap bahwa anak muda yang saat ini mungkin nakal, suatu saat akan kembali ke jalan yang benar." — Gus Baha
2. Rahasia Mendidik Anak di Zaman yang Berbeda
Prof. Quraish Shihab menjawab kegelisahan seorang ibu mengenai perbedaan karakter anak (anak perempuan yang penurut vs anak laki-laki yang sulit diarahkan). Beliau membagikan tiga kunci utama dalam mendidik anak:
A. Sadari Perbedaan Zaman
Mengutip pesan Sayyidina Ali, orang tua harus sadar bahwa anak lahir di zaman yang berbeda. Orang tua tidak boleh memaksakan anak untuk menjadi fotokopi dirinya sendiri. Berikan kebebasan dalam memilih minat dan bakat selama tidak melanggar prinsip agama.
B. Adil dalam Perlakuan, Bukan Harus Sama
Keadilan bukan berarti memberikan hal yang identik, melainkan memberikan kebutuhan sesuai porsinya masing-masing dengan tetap menjaga rasa kasih sayang yang seimbang.
C. Menjadi Sahabat bagi Anak
Ini adalah poin paling krusial. Jika orang tua memposisikan diri sebagai sahabat, anak akan merasa nyaman untuk terbuka dan bercerita. Tanpa hubungan persahabatan, anak akan mencari pelarian kepada pihak luar yang mungkin memberikan pengaruh negatif.
3. Pandangan Tentang Jilbab dan Kebebasan Beragama
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Quraish Shihab juga memberikan klarifikasi mengenai pilihan anak-anaknya (termasuk Najwa Shihab) dalam berpakaian:
- Edukasi atas Perbedaan: Beliau menjelaskan bahwa beliau mendidik anak-anaknya dengan memperkenalkan adanya berbagai pandangan (ikhtilaf) ulama mengenai batasan jilbab.
- Kesadaran vs Paksaan: Prinsip beliau adalah tidak memaksakan kehendak karena beragama harus didasari oleh kesadaran pribadi. Beliau lebih mengedepankan diskusi yang logis dan hangat sehingga anak bertanggung jawab penuh atas pilihannya sendiri.
Kesimpulan
Diskusi ini memberikan pesan kuat bahwa dalam menghadapi tantangan zaman, kita memerlukan sikap yang moderat. Gus Baha mengajarkan kita untuk tidak kaku dalam melihat kesalahan orang lain, sementara Prof. Quraish Shihab menekankan pentingnya kedekatan emosional dan persahabatan dalam keluarga sebagai fondasi pendidikan karakter.
Sumber: YouTube - Munajat Hamba (Sesi Tanya Jawab Gus Baha & Prof. Quraish Shihab di UII)

Comments
Post a Comment